Yayasan FLOWGI


Edisi EKSTRA- JUNI 2007

 
Bunga Indah di taman Wisma Mercury Yogya

CERITA KUNJUNGAN  FLOWGI TEAM HOLLAND

KE  PROYEK2 di Yogya dan Lombok

 

*******

 

Ruby adalah bendahara yayasan  Flowgi - Holland.
Dalam kunjungan ini Ruby didampingi suaminya Martin dan
Ronald penasihat yayasan Flowgi.

 

________________________________________________________

 

Martin dan Ruby:

 

Ini adalah kunjungan kami yang pertama untuk proyek di Lombok dan Yogya

 Sebelum meninggalkan belanda orangtua Ruby meletakkan kotak sepatu
pada ulang tahun ayahnya yang bisa dimasukkan uang oleh teman dan
keluarga, nantinya uang yang di dapat diharapkan bisa digunakan untuk  memberikan sesuatu yang lebih untuk anak-anak di Indonesia

 

Kami meninggalkan Singapura pada 12 juni, kami menginap semalam saja
disana sebelum melakukan perjalanan ke Solo pada hari selanjutnya.
Sesampainya di Yogya
kami disambut oleh Fai dan Eny, staff Flowgi Yogya.
Perjalanan dari Solo ke Yogya membutuhkan waktu 1.5 jam.
 

________________________________________________________

 JUNI 2007 

Lombok 16 Juni - MATARAM-MALIKLO

 

Kami mendarat di Mataram dan kakaknya Rifai, temannya serta Yani sepupunya
menunggu kami. Kami di bawa ke hotel tetapi sebelum itu kami mengunjungi
orang tua Rifai yang tinggal disebuah desa kecil bernama Maliklo.
Kami bertemu mereka dan tentu saja mereka telah menyiapkan masakan untuk kami,

dan dengan cara tradisional kami duduk di ruang tamu.
Makanannya sangat enak dan mereka juga menerima kami dengan tangan terbuka. Menjelang malam kami kembali ke hotel tempat kami menginap.

  

Kami bersama Erwin, Rojak, Rifai (staf Lombok dan Yogya)

dan Ronald
Pada keesokan harinya kami akan mengunjungi orangtua Erwin.

 

Lombok 17 Juni - Desa MALIKLO

 

Ini adalah laporan kami tentang kunjungan ke desa Maliklo dimana Yani memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada 50 orang anak dan dewasa (sekarang sudah 55 orang) setiap sabtu dan minggu. Yani adalah seorang mahasiswa jurusan
bahasa Inggris di Mataram.
Ketika kami tiba di tempat Yani, dia sedang memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada anak-anak. Ini adalah pengalaman yang sangat unik untuk para pelajar dan juga kami. Kami menanyakan tentang pelajaran yang mereka pelajari. Karena mereka duduk berkelompok maka kami harus berpindah-pindah tempat jadi mereka semua mendapat kesempatan untuk bercakap dengan kami.




Sangat menarik melihat reaksi mereka, beberapa anak sangat berani dan sebagian
sangat sopan dan kebanyakan mereka sangat pemalu .

Mereka berbicara bhs inggris yang sangat sederhana. Setelah itu kemudian kami
semua makan siang (dari uang yang dikumpulkan oleh orangtua ruby)

 


Orangtua Yani yang menyiapkan makan siangnya, mereka sangat ramah dan menangani semuanya, selama kami bercakap-cakap Rifai mengambil foto dan mendokumentasikannya, dia sangat hebat seperti fotographer beneran. Kami juga berbicara dengan Yani, dia sangat antusias dan ingin melanjutkan untuk memberikan pelajarannya, dia juga ingin mulai untuk mengadakan sebuah perpustakan kecil. Dan ketika kami di Yogya kami membelikannya kamus dari uang yang dikumpulkan oleh orangtua Ruby.
Pada sore harinya kami kembali ke hotel, untuk esok harinya kami rencana berkunjung
ke proyek sekolah Erwin dan makan siang dirumah orangtuanya dan juga berkunjung
ke orangtua Rojak dan Rifai.


Lombok 18 Juni -  desa Montong Gamang

 

Pertama tama pada hari itu kami berkunjung ke orang tua Rojak, ayahnya ada ditempat lain untuk bekerja, ibu nya memasak untuk kami. Mereka tinggal disebuah desa kecil dimana biji kemiri ditanam, dikeringkan dan dijual. Sangat ramah bahwa ibunya Rojak memasak untuk kami dan makanannya sangat lezat

 

Kami juga berkeliling desa dan mengunjungi peternakan ikan dan memberi makan
ikan-ikan disana. Kami melihat bahwa penduduk desa tidak terbiasa melihat orang
asing berjalan ditempat mereka, khususnya karena tidak ada orang berkulit putih.
Sekelompok anak-anak bahkan berjalan mengikuti Martin.

 

Kemudian kami menuju sekolah di Montong Gamang, sekolah ini memiliki 100 murid,
guru-gurunya mengajar secara suka rela, mereka menerima sumbangan tiap bulannya
dari penduduk desa sekitar

 

Pada awal tahun, Erwin, staf Flowgi Lombok, meminta untuk merenovasi toilet sekolah. Karena pada saat badai sekitar desember 2006 toilet tersebut rusak dan atapnya diterbangkan angin.

 

 

Dia menerima uang dari Flowgi. Atap dan pintunya telah diganti, retakan
di dinding pun telah diperbaiki dan lantainya mempunyai ubin baru.
Hanya pengecatan saja yang masih harus dilaksanakan,..
Seperti yang diminta,  Ronald membawa perlengkapan mengecat.
Erwin sangat gembira dengan ini.

 

Kami juga melihat kelas kelas dan berbincang dengan para guru.
Salah seorang guru berbicara bahasa inggris bagus tapi yang lainnya tidak.
Ronald juga berbicara dengan kepala sekolah.

Sementara itu kami berbicara tentang rencana pembelian 6 whiteboard untuk
sekolah dan kami langsung memesannya.
Kami juga memesan marker, penghapus dan pembersih.

 

Sehari sebelumnya kami juga memesan 100 kotak makan siang untuk murid sekolah ini (dari uang yang di kumpulkan oleh orangtua Ruby).
Orangtua Erwin dan adiknya yang mengurus semuanya, dan mereka melakukannya
dengan baik sekali. Mereka menyelesaikannya tepat pukul 12.00 .
Kami membagikannya kepada guru-guru dan murid.
Kotak makan siang berisi nasi, sayur, ayam, minuman, buah dan permen.




Anak-anak memakannya sebagian dan sebagian mereka bawa pulang untuk
dibagi atau ditunjukkan kepada orangtuanya.

 



Atas nama yayasan kami, kami memberikan masing-masing guru Rp.100.000 atau
sekitar 9,00 Euro. Mereka sangat bahagia dengan ini, walaupun kami tidak mengerti apa yang mereka katakan tapi kami dapat melihat dari pelukan mereka bahwa mereka sangat bahagia. Ini membuat kami sangat terharu melihatnya.

 

Pada siang harinya  whiteboard selesai, kami membeli isi ulang marker, penghapus,

 tinta dan jg pembersih. Tiba-tiba saja ruangan menjadi lebih terang karena
whiteboard tersebut.



Guru-guru pun sangat senang dan kelas benar-benar kelihatan lebih baik dari
sebelumnya. Kami meletakkan logo kami di papan jadi semuanya dapat dapat
melihat siapa yang memberikan.

 

 

Sore itu kami mengunjungi orangtua Rifai untuk bertemu mereka,
mengambil pesanan sandal (yang terbuat dari ban mobil) dan bawang goreng.
Lagi lagi kami disambut dengan hangat.
Ibu-ibu sibuk menggoreng bawang.




Dan kami tinggal untuk makan malam, itu adalah makan kami yang terakhir disana
karena setelah itu kami akan menuju Senggigi; tempat pariwisata dan
dari sana kami akan berangkat ke bandara.

 

Setelah 4 jam kamipun berangkat dengan Erwin dengan adiknya, Rifai dan kakaknya
serta Rojak. Rojak akan menyusul karena dia harus tes untuk
kursus yang ingin di ikutinya.

 

Di Pacific Beach Hotel kami memesan 3 kamar dan malamnya kami makan lagi, kami
sangat menikmati tempat itu dan sebenarnya kami ingin tinggal lebih lama disana.
Lombok adalah pulau yang sangat indah dengan alam yang natural
dan tidak banyak pengunjung.

  


 Sebenarnya pulau Lombok sangat penting untuk dikunjungi.
Karena pariwisata sangat mundur disini

 

 Foto2 Lombok

 

________________________________________________________

 

Yogya 19 Juni

 

Setiba di yogya kami memakai taksi ke hotel dan sesampainya disana kami
membongkar barang dan koper kami.

Semua staf Flowgi sangat sibuk dengan persiapan untuk acara Funday
di Bantul yang akan diadakan pada hari saptu tanggal 24 juni.

 

Mereka sangat sibuk mengerjakan segala sesuatu ; mempersiapkan kursi2, tenda, panggung, makanan, minuman dll. Ada banyak hal yang perlu dikerjakan.

 

Yogya 22 Juni and 23 Juni

 

Hari jumat dan sabtu sebelum hari Ulang Tahun Flowgi kami membeli 136 pasang
sepatu dan kaos kaki dan sebagian relawan mengisi tempat pinsil Flowgi dengan pena
dan pinsil. Sabtu malam kami mulai mengepak sepatu dan memasukkannya kedalam
kotak dengan sepasang kaos kaki didalamnya.

Kami menuliskan ukuran dikotaknya jadi kelihatan ukuran
yang mana yang mereka ambil.

 


Ukurannya dari no 28 sampai 40.
Semua relawan bekerja sama dengan baik. Setelah menyelesakan semuanya,
beberapa anak laki-laki tidur disekolah untuk berjaga jaga supaya keesokan
harinya tidak ada yang hilang

 

Saya dan Lucy berbincang dengan para sukarelawan, kami menanyakan
kepada mereka tentang cita cita mereka dan apakah mereka masih mau membantu
Flowgi dimasa yang akan datang.
Keesokan harinya kami dijemput pukul 9.15.
Kami menerima undangan resmi dari SD di bantul.

 

Ditulis oleh  Ruby and Martin

Terjemahan: Inggris-Indonesia > Yani-Lombok

 ________________________________________________________

 

Mempersembahkan sebuah momen indah FLOWGI

 

Sunday Fun Day

 

 25 Juni 2004 - 25 juni 2007

 

HUT Flowgi ke 3 di Yogya-Indonesia

 


 

Mentari pagi yang cerah mengawali hari yang indah pada Minggu 24 Juni 2007, Pagi itu matahari hangat menyinari sebuah desa kecil, di SD Banjardadap Bantul Yogyakarta. Terlihat kesibukan beberapa orang di sana, ada yang sibuk menata panggung, menata meja makan, ada juga yang sedang mempersiapkan show
untuk acara nanti.

 


 

Sekitar jam 7.30 pagi para siswa, para wali murid dan tamu undangan mulai berdatangan.

         Beberapa menit kemudian acara pertama pun di mulai. Acara pertama ini adalah acara tutup tahun dan sekolah SD Banjardadap.
Karena untuk tahun ajaran selanjutnya sekolah ini akan segera dipindah dan bergabung dengan tiga sekolah lain di Bantul. Perlu di ketahui sebelumnya SD Banjardadap adalah salah satu sekolah yang bangunannya rusak parah karena gempa, hingga saat inii para siswa belajar pada kelas sederhana yang berdinding bamboo (gedek).
Sebelumnya, Flowgi ditahun 2006 telah beberapa kali berkunjung untuk membagikan tas, seragam dan funny love tentunya.
Acara ini akan menjadi acara terakhir bagi SD Banjardadap, oleh karena itu Flowgi menetapkan acara ulang tahunnya di sekolah yang sederhana ini sebagai wujud kado kenangan terindah bagi mereka. Acara inii berlangsung kira-kira tiga jam, di isi dengan beberapa sambutan, pesan dan kesan serta pentas seni dari para siswa. Pentas seni ini diisi dengan tarian tradisional jawa seperti tarian kuda lumping dan tarian kontemporer, selain itu ada paduan suara yang turut menyemarakkan suasana.

 

 

         Beranjak siang, acara Sunday Funday semakin ceria saat memasuki moment puncak yaitu Acara Ulang Tahun Flowgi yang ke tiga dan Ela sebagai MC
memulai acara dengan seru .
Meski sebenarnya ulang tahun Flowgi jatuh pada tanggal 25 Juni, tetapi acara ini digabungkan dengan moment lainnya agar lebih hidup.


Fun Love Our Wonderful Given Ideas

 

sudah pasti ada dalam moment ini.


Anda tau apa yang terjadi? Seseorang yang lucu muncul dari arah penonton,
seorang pria memakai seragam SD merah dan putih sambil membawa tas punggung juga botol minuman yang spontan membuat penonton tertawa geli.
Bocah Gede ini naik ke atas panggung dan bertanya “apa itu back to school?”. Karena Back to School menjadi moto acara kali ini, maka Ela pun menjelaskan
“ Back to School "

 


Ella-pembawa acara

 

itu artinya bahwa setiap orang janganlah berhenti untuk belajar, muda ataupun tua haruslah kembali belajar segala yang belum dan ingin di pelajari agar masa depan menjadi lebih baik,  Ujarnya.
Bocah gede alias Om Ronny ini benar-benar membuat acara ceria ditambah lagi oleh penampilan drama berjudul
“Bawang Merah dan Bawang Putih Cinta Kebersihan”.
Drama anak ini diperankan oleh anak-anak Malai Production dan J-toku Films yang turut menghadirkan Ozona si robot superhero pecinta kebersihan. Drama ini juga sebagai pesan dan hiburan untuk para siswa, selain drama juga masih ada penampilan mengejutkan dari Pom-pom Boy dan beberapa nyanyian dari teman-teman Flowgi untuk menghibur

penonton.

 

 

Selanjutnya masih dalam moment yang sama, Om Ronny mewakili Yasayan Flowgi:
atas nama para sponsor dan donatur memberikan sebuah kenang-kenangan untuk SD Banjardadap. Di Puncak acara, Flowgi memberikan sepatu dan kaos kaki pada sekitar 122 siswa SD Banjardadap dan TK Panca Sakti.

Tampak kebahagiaan yang memancar dari wajah para siswa yang menerima sepatu tersebut, harapan Flowgi agar sepatu itu dapat dipergunakan sebaiknya untuk pergi kesekolah dengan lebih bersemangat untuk belajar.

Moment ini tentu saja disaksikan oleh Anggota Flowgi Holand (Lucy, Ruby and Martin), Jakarta (Hera dan Babe), Bandung (Aswin) dan Yogyakarta (Erita, Siska(teman-teman dari Kelopak),dkk). Dan juga tamu2/sponsor dari Jakarta.

 

 

Sesuai dengan nama acaranya, Sunday Fun Day enjoy aja, para undangan dan siswa sangat enjoy menikmati acara ini. Selain Food corner serta bazaar makanan traditional, para undangan dan siswa juga bisa bebas menikmati Movie corner.
Movie corner ini mempersembahkan Launching Film Malai Production dan Flowgi yang berjudul “A Girl in the Red Baloon”. Film ini nantinya akan di roadshow di Holand dan beberapa kota di Indonesia sebagai media visual untuk pengumpulan dana amal Flowgi untuk membantu anak-anak yang kurang mampu di Indonesia.

 

       

 

Jadi, 3 in 1 moment (tutup tahun dan sekolah SD Banjardadap, Ultah Flowgi dan Launching Film “A Girl In the Red Baloon”) telah berlangsung dengan penuh kegembiraan. Semoga akan selalu menjadi kenangan yang terindah dan inspirasi yang tak terlupakan selamanya karena Flowgi akan selalu menjadi ;

 

Fun Love Our Wonderful Given Ideas

 

Selamat Ulang Tahun Ke-3 FLOWGI!

 

Mari bersama membagi segala pengertian, perhatian dan kasih sayang pada sesama manusia!

  Kami tunggu partisipasi anda pada momen Flowgi selanjutnya…! JUST DO IT!

                                                                                                      
Ditulis oleh : Amel & Irma ^_^

 

 Thank you Amel and Irma

 

________________________________________________________ 


HARI ULANG TAHUN KE 3 INI DISPONSORI OLEH
DESA RODEN DAN GRONINGEN - HOLLAND

 

TERIMA KASIH KAMI PADA PARA DERMAWAN DAN
KEPADA BAPAK PETER DAN BAPAK PAULUS FLOKSTRA
YANG MENGUMPULKAN DANA

 

________________________________________________________ 


TERIMA KASIH KAMI
Kepada:
Team sekolah Banjardadap dibawah pimpinan ibu Sri Wismiyati,
Sukarelawan2 Flowgi untuk Jakarta- Hera dan Babe,
Bandung -Devy yang tidak bisa hadir,
Yogyakarta - Erita, Siska(teman-teman dari Kelopak) dkk,
sukarelawan baru Eka-Yogya, ibu Heny dari Wates,
tamu2/sponsor dari Jakarta; ibu Lina, ibu Lies, ibu  Hetty, ibu Suzi,

Orang tua Retno dari Cilacap,

bapak Triyono dari yayasan Anakita

Suly dari Palembang
serta kurang lebih 35 sukarelawan dari Yogya;
Kami ucapkan banyak terima kasih untuk semua bantuan dan
kehadirannya
untuk memeriahkan dan mensukseskan
acara HUT Flowgi yang ketiga ini.

Dari team Flowgi-Holland 

 

  To the Photo Album

 

________________________________________________________

TUTUP TAHUN SD BANJARDADAP TAHUN 2006/2007

And

SUNDAY FUNDAY WITH FLOWGI

 Ditulis oleh ibu Srie Wismiyati

 

Suasana hiruk pikuk sejak tanggal 21 Juli 2007 terjadi di SD Bajardadap.
Hari itu semua siswa dengan semangatnya membersihkan lokasi dalam rangka persiapan tutup tahun, kali ini benar-benar istimewa. Tutup tahun kali merupakan “tutup” nya SD Banjardadap akibat regruping. SD Bajardadap akan di regrup bersama SD Demangan 
dan SD Kepanjen yang mulai tahun ajararan 2006/2008 akan berganti nama
menjadi SD Jambitan dan berlokasi di desa Kepanjen Jambitan.

Namun wajah ceria dari warga sekolah yang terlihat bukan lagi kesedihan karena adanya regruping. Bagaimana tidak ? Sedianya acara tutup tahun akan diselenggarakan secara sederhana, tetapi dengan adanya FLOWGI yang berulang tahun pada tanggal 24 Juni 2007 dimana hari itu merupakan hari H tutup tahun SD Banjardadap, maka acara menjadi tutup tahun SD Banjardadap bersama ulang tahun FLOWGI.

Hari Minggu 24 Juni 2007 suasana SD Banjardadap benar-benar lain dari pada
yang lain.
4 buah tenda masing-masing berukuran 4x8 m berdiri megah di halaman sekolah,
menaungi panggung yang kokoh sebagai ajang pesta tutup tahun dan ulang tahun FLOWGI sekaligus “Tutup” nya SD Banjardadap dengan latar belakang yang bertuliskan

 

 “Tutup Tahun SD Banjardadap Tahun 2006/2007 And Sunday Funday
With Flowgi”

 

berdiri dengan megahnya dihadapan tamu undangan sebanyak kurang lebih
300
orang.
Di sudut halaman terdapat sebuah tenda yang menaungi jajanan berupa es cendol,

bakso dan mie ayam. Di belakang tenda jajanan adalah gedung sekolah darurat dimana di dalamnya terdapat prasmanan dengan hidangan khas Yogya yakni Gudeg Manggar yaitu masakan yang terdiri dari ayam kampung dimasak sedemikian rupa
bersama bunga kelapa yang masih muda.
Selain gudeg manggar juga tersedia sambal ati, baceman tahu dan makanan
kesukaan om Roni yaitu rempeyek kacang. Di meja yang lain tersedia makanan ringan yang berupa kacang rebus, bakwan jagung dan lemet singkong. Pada ruangan lain diputarlah film yang berjudul “The Girl in The Red Balloon” yang diproduksi oleh Malai Production. Film yang menggambarkan seporang anak tidak mau sekolah lagi karena trauma akibat gempa. Dengan bantuan dari FLOWGI akhirnya anak tersebut mau bersekolah lagi.

Setelah acara tutup tahun selesai kemudian dilanjutkan acara ulang tahun
FLOWGI yang sangat meriah. Tamu-tamu undangan sangat berkesan, apalagi
anak-anak hari itu benar-benar merupakan hari istimewa. Mereka dapat bermain sepuasnya dan jika sudah lelah dapat makan dan minum sepuasnya. Lebih dari itu s
etelah selesai acara anak-anak dan guru mendapat bingkisan yang berupa alat
tulis dan sepatu dari FLOWGI. Dalam hal ini pembiayaan nota bene dari FLOWGI
hamper 75% dari total biaya yang diperlukan.

Selesai acara memang semua alat pesta makan kotor, Namun dengan adanya suasana yang demikian meriah dan bersahabat tanpa disuruh, tetangga dan
masyarakat sekitar datang membantu kami membereskan semuanya.
Benar-benar suasana kekeluargaan terjalin dengan indahnya. Dan acara tutup tahun bersama dengan ulang  tahun saat itu benar-benar merupakan acara “Tutup” nya
SD Banjardadap dengan indahnya.

________________________________________________________


25 JUNI - YOGYA
KUNJUNGAN KE SEKOLAH DI  KULON PROGO 
DAN KUNJUNGAN KE GONDOLAYU

 

Dengan 2 mobil kita pergi mengunjungi sekolah dasar di Kulon Progo,
kami juga merencanakan untuk mampir ke Gondolayu di Yogya. Lokasi
sekolah ini berada  tinggi di pegunungan.
Perjalanan kesana memakan waktu 2 jam dari Yogya ,
awalnya kami tidak tahu jalan kesekolah tersebut tapi untunglah
ada Henny ; seorang relawan dan juga ibu Asih, beliau adalah kepala
sekolah di sana.
Ibu Asih membimbing kami dengan skuter.
Kami berkendara melewati pegunungan. Makin tinggi kami  berkendara
makin kecil jalan yang kami lalui. Sepertinya sangat jauh.
Dalam perjalanan itu kami melewati 3 sekolahan lain.



SEKOLAH KULON PROGO 
 

Setelah satu jam diperjalanan kami ahirnya sampai di sekolah yang kami tuju. Kami disambut dengan sangat baik oleh seluruh guru dan murid. Semua anak menyalami kami dan setelah itu kami berkeliling disekitar sekolah.

 

 


 Murid2 sekolah Kulon Progo

 

 

Ada sekitar 50 murid dan 8 guru, dua orang guru tidak hadir hari itu. Dua
diantara mereka akan di pensiunkan tapi karena kekurangan guru, mereka
ingin tinggal lebih lama untuk membantu sekolah tersebut.

Murid-murid disekolah ini sangat miskin, orangtua mereka membayar
Rp. 2.500, per anak. Gaji guru sangat kecil.  Ada guru yang
juga harus datang dengan motor yang mana membutuhkan biaya untuk
bahan bakar yang  sangat banyak. Juga tidak mungkin menggunakan
angkutan umum kesana. Murid-murid disekolah ini tinggal saling berdekatan
jadi mereka selalu berjalan kaki. Sementara kami berkeliling, Ronald bercerita kepada anak-anak. Masing-masing kelas menyanyikan lagu. 
 

 



 Senang sekali mendengarnya.Setelah bernyanyi, kami di ajak untuk
melihat ruang kesehatan oleh kepala
sekolah untuk menikmati kue dan teh. Sekali sebulan anak-anak
diperiksa kesehatannya diruang khusus ini
.

 

 

 

Selama makan siang kami, kami berbicara tentang situasi kini sekolah.
Karena sekolah tidak mempunyai uang untuk memperbaiki beberapa fasilitas yang sangat penting, mereka mendapat bantuan dari gereja.
Selain itu
mereka tidak mempunyai pendapatan. Disekolah itu  ada 8 orang guru.
Dan ada seorang relawan yang mengajar computer sekali sebulan.

 

Kami melihat bahwa setiap orang sangat ramah, sebelum meninggalkan
sekolah, kami memberikan kepada masing-masing anak sebuah tempat
pensil dan pena. Setelah berkeliling dan berbicara dengan kepala sekolah,
kami merasa tidak puas karena kami tidak membawa apa-apa selain tempat pensil dan pena untuk anak-anak.
Kami ingin memberi lebih.


 Ria dan Eny akhirnya menemukan penjual mie dan permen dan
mereka kembali dengan banyak mie dan permen.
Anak-anak sangat senang menerimanya.

 

Sudah saatnya kami pergi kami diundang oleh Heni untuk makan
siang dirumahnya, ibunya telah mempersiapkan makan siang, ada
banyak makanan seperti kue jagung, pecel lele, tempe, tahu, sayur segar,
sayur asem dan banyak makanan lainnya. Enak sekali dan kami sangat menikmatinya.

 

Kami tidak tinggal lama karena kami masih mau mengunjungi Gondolayu
 

________________________________________________________

 

 

25 JUNI 2007

KUNJUNGAN KAMI KE GONDOLAYO-KALI CODE-YOGYA

 

 

Saat kami tiba di Gondolayu, waktu telah menunjukkan  pukul 14.30.
Gondolayu adalah daerah tempat tinggal miskin di Yogya, rumah mereka
dibangun dipinggir sungai yang disebut kali Code-yogya


 


Rumah mereka sangat sangat kecil, beberapa keluarga tinggal diruang yang
tidak lebih besar dari hanya 2 meter persegi.untuk membuat lingkungan itu
lebih layak di tinggali, para pelajar dari jurusan senirupa  mengecat rumah
rumah merka ini dengan warna warna yang bermacam.
Rumah rumah kelihatan bersih dan ceria.

 


Ada sekitar 250 orang yang tinggal di daerah ini yang terdiri dari 50 kepala keluarga. Salah satu orangtua menemani kami berkeliling, ini adalah
pengalaman yang sangat berharga, orang-orangnya sangat bersahabat
dan ramah. Anak-anak di panggil  ke aula, mereka datang dari berbagai
tempat, bahkan para orang tua pun menjadi ingin tau, mereka
berkumpul dan menyanyikan lagu untuk kami semua.

 


tempat Pencil dan pen dari Flowgi


Setelah bernyanyi, mereka menerima kotak pensil dan bolpen. Selain itu
kami juga memberikan buku bahasa inggris untuk mereka belajar. Misi kami
hari itu ahirnya terlaksana. Kami membuat anak-anak senang dengan memberikan apa yang mereka butuhkan.
Akhirnya kami meninggalkan Gondolayu dan  kembali ke hotel.
 

 ________________________________________________________


THE STORY BEHIND GONDOLAYU

 

The children under the GONDOLAYU bridge.
Under the GONDOLAYU bridge live a lot of very poor families .
In the past, a former Catholic priest Mangunwijaya took care of these
families and  provided them with primary needs like rice and electricity.

Most families who live there are Christians, and Catholics.

In 1999 the pastor passed away. So now the families are divided by
different religions.

A lot of the parents are parking guards, beggars, mechanics or
street hawkers. They can hardly send their children to school anymore.

They also live in very sober houses, which are quite clean because the
houses are still under supervision of social institutions.
Even though all this the families have difficulties to keep supporting
their family members


GONDOLAYU

 

Something special about these houses along the river of kali Code

Father Mangunwijaya, full name Yusuf Bilyarta Mangunwijaya
(
Ambarawa, Semarang, 6 May 1929 - Jakarta 10 February 1999),
is an Indonesian architect, writer, and Catholic religious leader.
He is fondly known as Romo Mangun (Father Mangun).
He is known as the father of modern
Indonesian architecture.

He received Aga Khan Award in 1992 for his work with the slum dwellers in
kali Code
Yogyakarta. (Gondolayu)


  Read more about this award

 To the Biography of Father Mangunwijaya
 



________________________________________________________ 


25 JUNI- MALAM HARI

PERPISAHAN

 

Malam ini kami berencana untuk makan malam dengan semua
sukarelawan yang membantu Flowgi pada Funday tgl 24 juni.

 

Karena ini adalah proyek terahir kami dan pada tgl 26 kami akan pulang
 kembali. Kami akan dijemput pada pukul 19.00. saat it adalah waktu yang
bagus karena kemudian kami bisa mulai mengepak barang-barang kami.
Ketika kami sampai di restaurant kami disambut oleh Ria, dia memberikan
gula putar yang berwarna merah muda  pada saya dan Lucy dengan gugup.
Kami ingin jalan terus tetapi kami dihentikan karena mereka belum siap, sementara itu kami melihat-lihat ikan di aquarium yang akan di jual.

 

Setelah 10 menit ahirnya kami dapat melanjutkan berjalan di sekitar,
disana sangat gelap dan ketika kami berjalan mereka mulai menyanyi.
Dan di atas air kolam  ada sebentuk hati yang terbuat dari busa dengan lilin dengan huruf M dan R. ketika kami melihatnya baru kami mengerti bahwa ini
untuk Martin dan saya karena kami baru
menikah pada tgl ke 24 mei yang lalu.
 

 

Hal ini membuat kami sangat terharu, mereka melakukan ini khusus untuk kami.
Kami tidak dapat menjelaskan betapa berartinya ini untuk kami, semuanya memberi selamat dan kami diharuskan untuk duduk di tengah
bangku panjang, mereka juga memainkan music dari  televisi jadi kami dapat
ikut bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu pertama untuk kami dan kami
dipanggil ke depan, mereka membelikan kami hadiah sehingga kami 
agak malu karena hal ini.




Kami meletakkan hadiah itu ditempat yang khusus dirumah kami supaya
kami bisa melihatnya setiap hari. Setelah membuka hadiah tersebut kami
makan ikan bakar yang sangat lezat, kangkung, nasi, ayam dan lain lain.

 

 



Setelah kembali ke hotel, saya mendapat pesan dari ibu pijat yang juga ikut dengan kami dari Jakarta. Dia sangat bersemangat karena semua cerita yang didengarnya dari Lucy. Dia ingin mengalaminya sendiri. Pijatannya sangat enak, apalagi karena kami besoknya akan pulang. Kami harus bangun pada
pukul 05.00 pagi dan kami akan berangkat ke Solo pukul 06.00.
Rifai dan Ronald akan menemani kami.

 

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua Staff Flowgi dan semua sukarelawan untuk semuanya dan untuk waktu sangat menyenangkan selama kami di Yogyakarta.

 

Ditulis oleh Martin dan Ruby

Terjemahan: Inggris-Indonesia : Yani-Lombok 

________________________________________________________ 


Juli  2007

KUNJUNGAN KE PANTI ASUHAN MARDI SIWI DI YOGYA

  


terlalu besar untuk saya

 

 

 

 


Flowgi membawakan sembako

________________________________________________________
  
  
SEPENGGAL KISAH DI MARDISIWI

 YOGYA - INDONESIA
JUNI-JULI 2007

 

Di siang yang cerah, Rabu 27 juni 2007 Flowgi datang mengunjungi panti
asuhan  Mardisiwi. Saat tiba disana suasana begitu sunyi, sepi tak terdengar
canda maupun tawa dari anak-anak disana. Yang ada hanya halaman  kosong
dan bangunan berlantai dua yang terlihat tua. Disebelah banguan terdapat dapur
dan beberapa ruangan tak terpakai. Kami terkejut menyaksikan pemandangan yang
memprihatinkan. Banyak sampah berserakan, rungan kotor, dan coretan-coretan di dinding. Semua tampak tak terawat. Beberapa saat kemudian anak-anak mulai bermunculan dari dalam ruangan, mereka menyambut kami dengan gembira.
Beberapa anak berebut untuk berjabat tangan dengan om Ronny.
Suasana yang semula hening berubah menjadi ramai.

Setalah puas melepas rindu kami masuk ke dalam ruangan yang merupakan auditorium Mardisiwi.

Seperti biasa Flowgi selalu membawa kejutan untuk anak-anak Mardisiwi, kali ini
Flowgi membawa nasi kotak dan beberapa kaos dari sponsor. Om Ronny membuka
acara pada siang itu dengan beberapa cerita dan nasehat. Setelah berdoa kita makan bersama. Sepertinya semua sudah tidak sabar untuk makan. Ternyata isinya lengkap
lho ada ayam goreng, sayur, sambal, dan juga buah. Hmmm….. mak nyuss!
Semua makan dengan lahap. Setelah makan kami membagi-bagikan kaos.
Tapi kali ini khusus untuk anak cowok soalnya kaosnya besar-besar. Dengan memakai kaos baru para cowok berpose di depan kamera. Wah gayanya sudah mirip foto model.

Sementara di tempat lain, para cewek asyik mengobrol. Beberapa anak bercerita tentang kondisi Panti asuhan dan keadaan mereka selama di panti asuahan. Dari cerita beberapa anak disana kami mendapat fakta yang mengejutkan. Ternyata banyak sekali masalah di panti itu. Salah satunya adalah masalah keuangan.
Beberapa sponsor mengundurkan diri yang membuat masalah lebih rumit.

Untuk mendapat informasi lebih lanjut tentang masalah itu, Oom Ronny mengundang
8 anak ke hotel untuk menceritakan permasalahan mereka dan apa yang mereka
inginkan untuk masa depan mereka.

Dari hasil cerita itu kita tahu bahwa keinginan terbesar dari anak-anak dipanti asuhan adalah melanjutkan sekolah. Mereka ingin meraih cita-cita agar kelak bisa 
menjadi orang yang mandiri. Tapi mereka kesulitan untuk mencapai semua itu karena mereka tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Panti asuhan sendiri tidak bisa memenuhi semua biaya sekolah mereka.
Pihak panti hanya membantu sebagian dari biaya pendidikan.
Bagi anak-anak yang ingin melanjutkan ke SMA panti memberi bantuan untuk
membayar uang SPP. Anak-anak yang bersekolah di sekolah milik yayasan yang
sama mendapat keringanan biaya dari sekolah. Sementara bagi anak-anak yang
ingin melanjutkan ke perguruan tinggi harus membayar uang kuliah mereka sendiri.
Yang terberat adalah biaya untuk masuk ke sekolah baru.
Mereka harus menyediakan biaya exstra seperti biaya pendaftaran,
sumbangan, uang sekolah, seragam dll.

Fakta lain yang mengejutkan adalah biaya hidup mereka sehari-hari.
Setiap harinya mereka makan dengan lauk pauk yang sangat sederhana. 
Itupun dalam porsi yang terbatas karena harus dibagi rata.
Kadang  mereka kehabisan beras.

Aktivitas anak-anakpun cenderung monoton. Mereka hanya pergi kesekolah
dan pulang lagi ke panti. Sebagian anak bekerja sambilan sepulang sekolah dan yang
lain tetap tinggal di panti. Mereka tidak pergi kemana-mana mereka mengisi waktu
luang dengan nonton TV, olahraga, dan sesekali menggosip terutama anak-anak cewek. Kadang mereka merasa bosan dan butuh refreshing.
Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebenarnya banyak fasilitas di panti yang pernah diberikan Flowgi yang bisa dimanfaatkan namun sebagian tidak dirawat dengan baik. Dulu di panti terdapat perpustakaan kecil namun banyak buku-buku yang rusak bahkan hilang.
Begitu juga dengan computer (Flowgi memberi computer pada Mardi Siwi pada tahun 2003) dan beberapa peralatan olah raga.

 

Beberapa hari kemudian dibulan Juli.


 Flowgi datang kembali ke panti asuhan sambil membawa barang-barang
kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, minyak goreng, telur, gula,
dan sabun. Selain itu kita juga membawa peralatan kebersihan karena acara
kita hari ini adalah bersama membersihkan panti.
 Saat kami tiba beberapa anak sudah tampak
membersihkan panti. Yang laki-laki bersama oom Ronny membersihkan
lingkungan sekitar panti.
Mereka membersihkan sampah, mencabut rumput, dan menata halaman. Sementara remaja wanita memasak di dapur bersama tante Lucy.
Mereka memasak cah kangkung, tempe goreng, dan makanan kesukaan
oom Ron tahu goreng.
Mereka semua terlihat bersemangat terlebih tante Lucy,
beliau sibuk dengan kangkungnya. Setelah memasakpun tante masih semangat membersihkan dapur bahkan beliau mengepel dapur sendirian.
Akhirnya tantepun kecapean, beliau duduk di aula sambil menunggu
makan siang tiba.
Tepat tengah hari pekerjaan kami selesai, kami membersihkan badan dan mencuci tangan.
Karena kecapean dan perut lapar kamipun makan dengan lahap nyam..nyam….
makan kali ini terasa lebh nikmat karena dimakan bersama-sama.

Akhirnya misi kita kali inipun selesai, kami senang karena semua berjalan dengan lancar. Kami berharap semoga apa yang kita lakukan bisa membuat anak-anak lebih nyaman berada di panti dan mereka tetap menjaga kebersihan panti. Semoga dengan ini semua anak-anak  lebih bersemangat untuk berjuang meraih cita-cita mereka.
Kamipun pulang dengan membawa kenangan manis.

Teima kasih Oom, tante, dan teman-teman sukarelawan Flowgi tanpa kalian
semua tak akan seindah ini.

 

Semoga ada pembaca yang tergerak hatinya untuk membantu Flowgi
membantu anak2 mencapai cita-cita mereka.
Terima kasih untuk semua bantuan yang telah kami terima . 

Ditulis oleh Ennie – Flowgi Staf Yogya

 

To the Photo report

________________________________________________________ 

                                                      

                                                                                  Back to top

 

 

Yayasan FLOWGI | Roekenbos 148 | 2134 VL Hoofddorp
Kamer van Koophandel 34212076 | Postbank 44.03.596
tel. +31 23 5613942 | info@flowgi.org